Di hutan senyap berselimut kabut,
jejak langkahmu tak pernah pasti—
kadang membekas di tanah lembab,
kadang hilang sebelum sempat kutapaki.
Kau datang seperti angin subuh,
membelai dedaunan tanpa janji,
lalu pergi saat matahari
belum sempat bertanya siapa kau ini.
Sungai pun tak tahu ke mana kau mengalir,
padahal ia selalu mencoba memantulkan wajahmu.
Antara batu dan arus yang terus berlari,
aku menanti di tepian, tak tahu untuk siapa.
Burung-burung siang bersiul lirih,
mereka pun tak yakin apa kau nyata
atau hanya bayang kabut
yang dikira cinta oleh yang terlalu lama sendiri.
Lalu senja jatuh tanpa warna,
seperti hati yang tak jadi berbunga.
Dan aku, daun gugur di antara rimbun,
Bertanya: apakah mencintai berarti tak harus memiliki arah..?