Pointy Hand

Tuesday, July 22, 2025

"Apakah Kau Telah Setenang Itu?"

Telah lama kau tak muncul di beranda,

tak ada jejak, tak ada sapa

Hening sunyi menggantikan tawa,

padahal kita masih terikat di dunia maya.

Kemana engkau, Wanita yang kurindukan,

yang dulu senyummu berserakan

di linimasa,cerita-cerita kecilmu—pagi, siang dan senja

Kini layar ini sepi dari jejakmu,tiada lagi tawa yang kau titipkan di cerita,

tiada gambar, tiada suara,

seolah engkau raib ditelan cahaya  

Padahal kita masih berteman di dunia maya

namamu masih di sana, diam, tak bersapa,

apakah hidupmu telah setenang samudra..?

Ataukah kau hanya lelah dari dunia yang bicara..?

Kini berandaku senyap dari semua tentangmu…

tak ada unggahan, tak ada isyarat 

Bahkan bayanganmu pun kian samar,

seperti malam yang menelan semua warna.

Apakah kau telah setenang itu,

hingga tak perlu lagi berbagi cerita sedih senang canda dan tawa

Ataukah kau sedang sembunyi dari dunia,

yang dulu begitu kau peluk mesra?

terkadang Aku tak tahu harus bertanya pada siapa,

hanya bisa menyapa lewat doa  

Semoga kau baik,meski tak lagi terlihat  

Semoga damai menghuni langkahmu,

meski diam menjadi rumah barumu.

Karena mungkin rindu ini tak butuh balasan

Cukup kau bahagia —itu pun sudah jadi jawaban  


~Fikri Firdaus

Monday, July 21, 2025

Janji Langit

Di bawah langit yang kadang muram,

Aku melangkah diam-diam,
menggenggam luka dalam tenang,
menyulam harap dari serpih malam.

Bukan karena hidup mudah bagi'ku
tapi karena aku tahu makna setia.
Pada peluh, pada jatuh dan pada doa-doa'ku
yang tak pernah aku pinta sia-sia.

Aku bukan pengejar mimpi yang buta,
tapi pejuang yang mengerti waktu semesta,
bahwa yang indah tak selalu cepat datang,
dan yang besar, lahir dari luka yang tenang.

Langkah'ku tak selalu gagah,
kadang gemetar di balik tawa ramah.
Namun hati'ku tak pernah lelah
memercayai janji Sang Penentu arah.

Aku tahu.. takdir bukan milik mereka yang cepat,
tapi milik mereka yang sabar dan tepat.
Yang menabur kebaikan meski sepi,
yang memeluk sunyi dengan hati bersih dan suci.

Aku lelaki biasa..
tapi mimpi'ku tak pernah sederhana.
Karena dalam jiwa'ku,
Selalu terpatri keyakinan:
Tuhan sedang menulis kisah terindah
untuk mereka yang tak pernah menyerah.

Monday, July 7, 2025

"Dibalik Alis gengsi dan Pesonamu"

 

Ada langkah kecil melintasi mataku,
Ringan—tapi cukup mengguncang kalbu.
Dia tak tinggi, tak pula banyak bicara,Tapi setiap kehadirannya, seperti senja yang paling indah warnanya.

Aku melihatmu—bukan sekadar melihat,
Tapi terjebak dalam pesona yang tak sengaja kau buat.
Mungil tubuhmu, pendek langkahmu,
Namun getarnya sampai jauh ke dadaku.

Alismu tebal, seperti garis tegas keyakinan,
Mata indahmu, dua rahasia penuh pertanyaan.
Dan senyum manismu…
Ah, senyum itu, cukup satu untuk membuat waktu membeku.

Kau anggun tanpa perlu banyak bicara,
Seperti pagi yang tak perlu berkata untuk membuat hati ini lega.
Diam-mu menyimpan seribu bahasa,
Dan aku lelaki yang terus menerka maknanya.

Tapi yang paling membuatku tak bisa mendekat,
gengsimu—tinggi, seperti langit saat senja pekat.
Bukan penghalang, tapi pagar keanggunan,
Yang justru membuatmu semakin pantas dikagumi dalam diam.

Aku suka caramu berjalan tanpa beban,
Tapi tahu betul siapa dirimu dan siapa yang tak pantas ditawan.
Aku hanyalah lelaki biasa,
Yang jatuh bukan karena lemah, tapi karena kau terlalu istimewa.

Kalau suatu hari gengsimu bisa kutemukan kuncinya,
Akan kusapa… pelan, penuh hati, tak berlebih.
Karena wanita sepertimu,
Tak layak dipuja sembarangan—tapi harus disayangi dengan tenang.

Wednesday, June 4, 2025

Senandung Ombak di Senja itu

 Langkahmu menyisakan jejak

di pasir basah yang perlahan terhapus ombak,

seperti rahasia kecil yang kita bisikkan

di sela angin yang malas pulang.


Mentari tergelincir perlahan ke ujung laut,

melukis siluet wajahmu dalam emas yang redup,

dan aku—masih saja terdiam,

antara ingin menggenggam atau membiarkanmu hanyut.


Kau bicara tentang langit,

tapi matamu menatapku seperti samudra:

dalam, tenang, namun menyimpan badai

yang tak pernah benar-benar kau ceritakan.


Kita duduk di batu karang,

mendengar gelombang memukul waktu,

dan aku tak tahu

apakah ini cinta, atau sekadar rindu yang terlalu nyaman bertamu.


Sore pun tenggelam,

tapi bayangmu tinggal di mataku,

seperti cahaya terakhir

yang enggan benar-benar hilang dari biru.

Wednesday, May 28, 2025

"Kabut di Ujung Rimba"

 Di hutan senyap berselimut kabut,

jejak langkahmu tak pernah pasti—

kadang membekas di tanah lembab,

kadang hilang sebelum sempat kutapaki.


Kau datang seperti angin subuh,

membelai dedaunan tanpa janji,

lalu pergi saat matahari

belum sempat bertanya siapa kau ini.


Sungai pun tak tahu ke mana kau mengalir,

padahal ia selalu mencoba memantulkan wajahmu.

Antara batu dan arus yang terus berlari,

aku menanti di tepian, tak tahu untuk siapa.


Burung-burung siang bersiul lirih,

mereka pun tak yakin apa kau nyata

atau hanya bayang kabut

yang dikira cinta oleh yang terlalu lama sendiri.


Lalu senja jatuh tanpa warna,

seperti hati yang tak jadi berbunga.

Dan aku, daun gugur di antara rimbun,

Bertanya: apakah mencintai berarti tak harus memiliki arah..?



Wednesday, May 7, 2025

Begitulah Manusia

Sebenarnya aku ada di titik tak mau lagi Bercerita

Maunya simpan saja sendiri
Tapi aku tau, aku Bukanlah orang yang penting dan berarti di kehidupan orang lain
Mungkin Ceritaku tak penting dan jarang ada orang yang mau mendengarkan
Malah terkadang menjadi ajang adu Nasib di kehidupan Nyataku.
Semua Respon yang sering kuterima dan selalu ku dengar
"Ahhh lu mah masih mending"

Yah, begitulah Manusia..

Terkadang orang terdekat ada, saat ada maunya saja
Mereka menganggap aku selalu tahan Banting,
Orang yg selalu bisa membantu dan selalu Baik-baik saja
Padahal ada banyak Hal Duka, Pahit dan Sakit yang aku rasa dan lewati selama ini.
Hingga pada akhirnya
Aku menulis lagi Disini
Mungkin dari sekian Lama tidak Menulis
Setidaknya sebenarnya aku merasa tidak sendirian ,karna masih ada kalian Disini.

BTW. Apa kabar kalian. 😁

Semoga kalian sehat selalu yah..

Salam Hangat; Fikri Firdaus

Monday, April 14, 2025

Sisa Rasa Atau Mati Rasa

 

Aku tidak kuat,
tapi aku juga tidak rapuh.
Aku hanya kosong.
Seperti ruangan Luas tanpa pintu,
tanpa jendela,
tanpa siapa pun yang tahu aku ada di dalamnya.

Dulu aku bisa untuk menangis.
Sekarang, bahkan aku lupa bagaimana cara memaksa agar Mata ini mengeluarkan Hujannya.
Seolah tubuh pun tak ingin lagi
Membela hatiku yang diam-diam
telah Menyerah.

Aku berjalan,
tapi tak benar-benar seperti hidup.
Tertawa agar tak ditanya, “Kenapa kamu berubah?”
Padahal aku tak pernah berubah
aku hanya hilang sedikit demi sedikit,
dari dalam.

Tak ada luka Baru,
karena sudah tak ada rasa.
Semuanya mati perlahan
seperti Lilin yang kehabisan nyala
Bukan karena tiupan,
tapi karena tak lagi punya alasan
untuk terus menyala.

aku menulis,
bukan karena aku ingin didengar,
tapi karena aku tak tahu bagaimana caranya Berbicara,
tentang Rasa yang sudah tak ada,
kepada dunia yang tak pernah benar-benar peduli pada Luka.
Aku tak pernah Tahu, masihkan ada sisa Rasa atau mungkin ini lah yg dinamakan Mati Rasa.

Bogor, 15 April 2025