Pointy Hand

Wednesday, June 4, 2025

Senandung Ombak di Senja itu

 Langkahmu menyisakan jejak

di pasir basah yang perlahan terhapus ombak,

seperti rahasia kecil yang kita bisikkan

di sela angin yang malas pulang.


Mentari tergelincir perlahan ke ujung laut,

melukis siluet wajahmu dalam emas yang redup,

dan aku—masih saja terdiam,

antara ingin menggenggam atau membiarkanmu hanyut.


Kau bicara tentang langit,

tapi matamu menatapku seperti samudra:

dalam, tenang, namun menyimpan badai

yang tak pernah benar-benar kau ceritakan.


Kita duduk di batu karang,

mendengar gelombang memukul waktu,

dan aku tak tahu

apakah ini cinta, atau sekadar rindu yang terlalu nyaman bertamu.


Sore pun tenggelam,

tapi bayangmu tinggal di mataku,

seperti cahaya terakhir

yang enggan benar-benar hilang dari biru.

No comments:

Post a Comment