Langkahmu menyisakan jejak
di pasir basah yang perlahan terhapus ombak,
seperti rahasia kecil yang kita bisikkan
di sela angin yang malas pulang.
Mentari tergelincir perlahan ke ujung laut,
melukis siluet wajahmu dalam emas yang redup,
dan aku—masih saja terdiam,
antara ingin menggenggam atau membiarkanmu hanyut.
Kau bicara tentang langit,
tapi matamu menatapku seperti samudra:
dalam, tenang, namun menyimpan badai
yang tak pernah benar-benar kau ceritakan.
Kita duduk di batu karang,
mendengar gelombang memukul waktu,
dan aku tak tahu
apakah ini cinta, atau sekadar rindu yang terlalu nyaman bertamu.
Sore pun tenggelam,
tapi bayangmu tinggal di mataku,
seperti cahaya terakhir
yang enggan benar-benar hilang dari biru.
No comments:
Post a Comment