Ada langkah kecil melintasi mataku,
Ringan—tapi cukup mengguncang kalbu.
Dia tak tinggi, tak pula banyak bicara,Tapi setiap kehadirannya, seperti senja yang paling indah warnanya.
Aku melihatmu—bukan sekadar melihat,
Tapi terjebak dalam pesona yang tak sengaja kau buat.
Mungil tubuhmu, pendek langkahmu,
Namun getarnya sampai jauh ke dadaku.
Alismu tebal, seperti garis tegas keyakinan,
Mata indahmu, dua rahasia penuh pertanyaan.
Dan senyum manismu…
Ah, senyum itu, cukup satu untuk membuat waktu membeku.
Kau anggun tanpa perlu banyak bicara,
Seperti pagi yang tak perlu berkata untuk membuat hati ini lega.
Diam-mu menyimpan seribu bahasa,
Dan aku lelaki yang terus menerka maknanya.
Tapi yang paling membuatku tak bisa mendekat,
gengsimu—tinggi, seperti langit saat senja pekat.
Bukan penghalang, tapi pagar keanggunan,
Yang justru membuatmu semakin pantas dikagumi dalam diam.
Aku suka caramu berjalan tanpa beban,
Tapi tahu betul siapa dirimu dan siapa yang tak pantas ditawan.
Aku hanyalah lelaki biasa,
Yang jatuh bukan karena lemah, tapi karena kau terlalu istimewa.
Kalau suatu hari gengsimu bisa kutemukan kuncinya,
Akan kusapa… pelan, penuh hati, tak berlebih.
Karena wanita sepertimu,
Tak layak dipuja sembarangan—tapi harus disayangi dengan tenang.
No comments:
Post a Comment